Tuesday, July 6, 2010

Perempuan Bersyukur Atas Suaminya



Oleh Sang Pencipta, naluri perempuanku genap dan jernih menuntunku, engkaulah tempat semua perempuan dalamku tercurah. Walaupun tak mudah bagimu memahaminya.

Aku selalu ingin membuatmu jatuh cinta kepadaku, karena engkau adalah tempat perhentian dan jeda bagi segala fananya keseharianku. Dalam keesaan raga kita, di bidang dadamu seringkali kudapati pembaringan tempat kuhimpun kembali asa-kekuatan juga alasan untuk tetap menghadapi kefanaan dunia ini. Walaupun kau tidak terlalu menuntut ini.

Sebagai yang saling bersepakat, aku bersyukur untukmu karena kesepakatan kita akan kehidupan kekal menciptakan aku sebagai perempuan yang selalu tahu apa yang menjadi kebutuhan penting dirimu sebagai manusia lelaki, suami, ayah dari anak-anak kita, penduduk dunia, umat ilahi. Walaupun untuk itu tidak jarang aku menjengkelkanmu begitu mendalam.

Makin kusadari bahwa engkau tiada duanya dan satu-satunya yang terbukti tepat mendampingi aku. Walaupun kau memahaminya sebagai kewajaran.

Anak-anak kita begitu membahagiakan dan memuaskanmu. Mereka begitu lekat pada kehadiranmu.Tiada yang terbesar selain hasrat 'tuk bersyukur yang makin besar dan besar setiap waktu menyadari ini semua. Walaupun kau sedang tidak di dekatku.

Aku tidak pernah ingin jauh darimu, walau sebentar saja. Jauh darimu membuatku tidak punya cukup tempat bagi hasrat perempuanku yang tiada berkesudahan untuk mengasihimu, membuaimu, kau tau persis ini. Walaupun kebijaksanaan kehidupan fana ini memaksaku untuk mengalami keseharianku tanpamu berjam-jam atau kadang berhari-hari lamanya.

Aku bersyukur bahwa kau juga menjadi bukti nyatanya Pencipta kita. Yang menjadi bukti bahwa hidup ini harus semurni Dia, harus jauh dari kerumitan keinginan fana. Kau juga menjadi bukti nyatanya Dia yang memberi kita hidup, cinta kini dan kelak untuk selamanya-bersama-Nya.

Dia selalu tau,
sebagai bagian kesepakatan ilahi nan sempurna di antara kita, hanya dirimu yang sesungguhnya menjadi kerinduanku sesudah Dia. Lainnya adalah percikan-percikan kerinduan yang sebenarnya, yang menggenapi kita yang menyatu.

Akhirnya hanya Dia yang menciptakanku menjadi makhluk yang penuh kehangatan semangat cinta nan kekal bersama hadirmu di dalam hidupku. Istimewa tiada duanya. Memancar menembus ruang dan waktu juga dinding-dinding terpadat di antara insan berjuta nan tiada sempurna.

Kau selalu ada mendampingiku ketika pancaran itu tidak tepat diterima radar insani selain dirimu ... Kau selalu ada di saat-saat kefanaan insan duniawi mengacaukan niat tulus pancaran cinta itu. Begitu pentingnya hadirmu bagiku ketika itu, aku yang sudah Dia rancang dengan jati diri serapuh ini. Walaupun kau sedang butuh semangat dariku.

Terpujilah Dia: Penciptamu: suamiku. Pencipta kita,
yang juga memenuhi kita dengan cinta ini.
Yang mempertemukan kita pada inti hidup ini; kekekalan surgawi, kesucian.
Yang mengamankan kita dari yang tidak perlu; kekekalan hukuman, noda dosa.